Surat Rindu Untuk Kekasihku

"Sopia…
Di antara malam yang hening,
namamu adalah bintang yang paling terang.
Rinduku menetes pelan,
seperti hujan yang jatuh di antara doa-doa panjang.

Aku merindukan suaramu,
yang mampu menenangkan badai dalam dadaku.
Aku merindukan tatapanmu,
yang selalu membuat dunia terasa lebih indah.

Jarak ini hanya ruang,
tapi hatiku selalu berjalan menuju dirimu.
Setiap detik adalah penantian,
setiap hela napas adalah namamu.

Sopia…
andai kau tahu,
betapa rinduku tumbuh tak terbatas.
Seperti ombak yang tak pernah lelah
mencari pantai tempat ia kembali.

Aku adalah rindu yang tak selesai,
dan engkau… adalah rumah tempat aku pulang."

"Sopia…
di setiap senyap malam,
rinduku berdesir lirih seperti doa yang tak henti,
namun kupeluk erat dalam diam,
sebab aku tengah berjalan di jalan panjang perjuangan.

Kupasrahkan jarak sebagai ujian,
kupasrahkan sepi sebagai peneguh hati.
Setiap tetes peluhku,
adalah persembahan kecil untuk masa depan kita,
agar cintaku padamu tak hanya bersemayam dalam kata,
tetapi menjelma nyata, hangat, dan abadi.

Sopia…
rinduku tak pernah berkurang,
ia justru tumbuh—seperti api yang tak padam,
menjadi suluh saat langkahku mulai gontai.
Aku menahan diri bukan karena tak ingin bertemu,
tetapi karena aku ingin kembali padamu
dengan membawa kepastian,
bukan sekadar angan.

Dan pada hari itu…
saat perjuangan ini rampung,
rinduku tak lagi tertahan,
ia akan menjelma pelukan,
dan kita akan menjadi rumah bagi satu sama lain,
selamanya."